Rabu, 27 April 2016

Kelebihan & Kekurangan Bank Syariah dan Bank Konvensional  berserta  Sistem  Bunga

     1.     BANK SYARIAH

Perbankan syariah atau Perbankan Islam adalah suatu sistem perbankan yang dikembangkan berdasarkan syariah (hukum) islam. Usaha pembentukan sistem ini didasari oleh larangan dalam agama islam untuk memungut maupun meminjam dengan bunga atau yang disebut dengan riba serta larangan investasi untuk usaha-usaha yang dikategorikan haram (misal: usaha yang berkaitan dengan produksi makanan/minuman haram, usaha media yang tidak islami dll), dimana hal ini tidak dapat dijamin oleh sistem perbankan konvensional. Bank syariah beroperasi tidak dengan menerapkan metode bunga, melainkan dengan metode bagi hasil dan penentuan biaya yang sesuai dengan syariah islam.
  Ø  Tujuan Perbankan Syariah
Perbankann Syariah sebagaimana diulas dalam pasal 3 UU Perbankan syariah bertujuan “menunjang pelaksanaan pembangunnan nsional dalam rangka meningkatkan keadilan, kebersamaan dan peerataan keadilan rakyat. Dalam mencapai tujuan menunjang pelaksanaan pebangunan nasional, perbankan syariah tetap berpegang pada prinsip syariah secara menyeluruh (kaffah) dan konsisten (istiqomah) .
  Ø  Kelebihan Bank Syariah
    a)      Adanya ikatan emosional antara pemegang saham, pemilik, dan nasabahnya.
    b)      Adanya fasilitas pembiayaan yang tidak membebani nasabah sejak awal karena tidak diharuskan         membayar biaya secara tetap.
    c)      Adanya sistem bagi hasil yang membuat bank syariah menjadi lebih mandiri.
    d)     Keuntungan yang didapat nasabah bisa meningkat apabila pendapatan yang diperoleh bank tersebut     juga meningkat.

  Ø  Kekurangan Bank Syariah
     a)      Bank syariah sangat rawan terhadap nasabah yang berniat tidak baik.
     b)      Sistem bagi hasil memerlukan perhitungan yang sangat rumit.
     c)      Dengan adanya sistem bagi hasil, maka bank syariah membutuhkan tenaga professional yang lebih      handal dari bank konvensional.

   2.     BANK KONVENSIONAL
Bank konvensional merupakan bank yang paling banyak beredar di Indonesia. Bank umum mempunyai kegiatan pemberian jasa yang paling lengkap dan dapat beroperasi diseluruh wilayah Indonesia. Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, Konvensional berarti “menurut apa yang sudah menjadi kebiasaan”. Dimana dapat kita ambil kesimpulan bahwa bank konvensional adalah yang operasionalnya menerapkan metode bunga, karena metode bunga sudah ada terlebih dahulu yang menjadi kebiasaan. Dalam praktiknya ragam produk tergantung dari status bank yang bersangkutan. Menurut status bank konvensional dibagi kedalam dua jenis yaitu bank umum devisa dan bank umum non devisa.
  Ø  Kelebihan Bank Konvensional
    a)      Sistem bunga yang ditawarkan telah dikenal masyarakat sejak lama.
    b)      Produk yang diciptakan bank konvensional lebih kreatif.
    c)     Pada umumnya nasabah telah terbiasa dengan sistem bunga dibandingkan dengan sistem bagi hasil.
    d)     Memiliki fasilitas ATM yang telah tersebar luas diseluruh Indonesia.
  
  Ø  Kekurangan Bank Konvensional
    a)      Adanya praktik curang, seperti bank dalam bank dan transaksi fiktif.
    b)      Praktik spekulasi yang terlalu ambisius dan tanpa perhitungan.
    c)       Kredit sering bermasalah karena prosedur pemberian kredit yang kurang potensi dan terkadang           hanya diberikan pada grup atau kalangan tertentu.
   
     3.     SISTEM BUNGA
Perbedaan utama yang paling mencolok antara Bank Syariah dan Bank Konvensional yakni pembagian keuntungan. Bank konvensional sepenuhnya menerapkan sistem bunga atau riba. Hal ini karena kontrak yang dilakukan bank sebagai mediator pemilik dana dengan peminjam dilakukan dengan penetapan bunga. Ada dua macam bunga yang diberikan oleh bank yaitu bunga simpanan yang diberikan oleh bank sebagai balas jasa bagi nasabah yang menyimpan uangnya di bank dan bunga pinjaman yang diberikan oleh bank kepada para peminjam. Karena nasabah telah mempercayakan dananya, maka bank harus menjamin pengembalian pokok beserta bunganya. Selanjutnya keuntungan bank adalah selisih bunga antara bunga simpanan dengan bunga pinjaman. Jadi para pemilik dana mendapatkan keuntungan dari bunga tanpa keterlibatan langsung dalam usaha. Demikian juga pihak bank tidak ikut merasakan untung rugi usaha tersebut.
Mengingat adanya bunga pada bank konvensional difatwakan sama dengan riba, sehingga memunculkan alternatif untuk menghindari harta haram, di buatlah bank bersystemkan syariah. Namun ternyata tidak sedikit masyarakat umum dan bahkan kalangan intelektual terdidik, bahkan masyarakat masih menganggap bahwa bank syariah sama saja dengan bank konvensional. Mereka juga beranggapan bagi hasil dan margin keuntungan, sama saja dengan bunga. Mereka mengklaim, bahwa bagi hasil hanyalah nama lain dari sistem bunga. Tegasnya, bagi hasil dan bunga sama saja. Pandangan ini juga masih terdapat di kalangan sebagian kecil ustazd yang belum memahami konsep dan operasional bagi hasil. Sehingga perlu dijelaskan perbedaan system dari bank tesebut. Perlu dipahami, bahwa bank konvensional merupakan bank yang menerapkan system bunga bank sedangkan bank syariah, menrapkan system bagi hasil.

  Ø  Hasil atau Bunga
      Pada bank konvensional menggunakan sistem bunga dan memprioritaskan keuntungan.
      1)      Penentuan dibuat pada waktu akad dengan asumsi harus selalu untung
      2)      Besarnya presentase berdasarkan pada jumlah uang (modal) yang dipinjamkan
      3)      Pembayaran bunga tetap tanpa melihat untung atau rugi.
      4)      Pembayaran bunga tidak meningkat sekalipun jumlah keuntungan berlipat

Pada bank syariah tidak menggunakan sistem bunga melainkan sistem bagi hasil.
      1)      Besarnya dibuat pada waktu akad dengan berpedoman pada kemungkinan untung rugi
      2)      Besarnya berdasarkan pada jumlah keuntungan yang diperoleh
      3)     Bergantung pada keuntungan proyek yang dijalankan. Bila merugi, kerugian akan ditanggung             bersama oleh kedua belah pihak
     4)      Pembagian laba meningkat sesuai dengan peningkatan pendapatan.


Nama  : DELLA NURIASHA
Npm    : 22213149
Kelas   : 3EB15

Sumber :
http://www.neraca.co.id/article/36405/kelebihan-dan-kekurangan-bank-syariah, Diakses pada tanggal 27 – 04 – 2016 jam 20.10
http://nge-posting46.blogspot.co.id/2013/03/perbandingan-bank-syariah-dan.html,
Diakses pada  tanggal 27 – 04 – 2016 jam 20.15
http://dokumen.tips/documents/bank-konvensional-makalah-mata-kuliah-kapita-selekta
universitas-mercu-buana-jakarta.html, Diakses pada  tanggal 27 – 04 – 2016 jam 20.25
http://www.kompasiana.com/gapey-sandy/asuransi-syariah-kaya-manfaat-untuk-semua-umat_54f5d534a33311454f8b468e, Diakses pada  tanggal 27 – 04 – 2016 jam 20.45


Rabu, 23 Maret 2016

TUGAS 1 (DESCRIPTION)

Assalamualikum. Wr.Wb.

           I would describe myself first of all introduce my name Della nuriasha my daily life used to be called the della. I was born in Jakarta, on October 4, 1995. I was the second child of three children I live in a house together with my family and my home address complex at Taman depok permai B3 block number 1, Depok east.
            My father worked as private employees in one company in Jakarta and my mother a housewife living as we are a very simple family. My hobbies are shopping and also watch Korean dramas. I really love Korean pop music. I have one brother and one sister. I really love my brother and sister as well as my home if they are playing with me or tell me
            My primary school at SDN Mekarjaya 30 because up to the close of my house even I like walking to school-yack with friends my small, after graduating from elementary my continuing education to public junior high school because my own desire after the completed education smp me continue to pursue high school I attended in Jakarta is very far from my home and even I had to ride public transportation to 2 times after graduation I continue at Gunadarma University and am currently sitting in college semesters 6 and my goal after college is to be accountant at a company.
            I have strengths and weaknesses in my character that possess a rather grumpy and if I look like someone that would be highly visible, but in fact I was a good kid. I am very fond of my family and also my best friend. People say I often get angry, but they accepted it because for them although I am grumpy, but on the other hand I am angry because certainly there are reasons to support it.
            To be honest I really do not like people to its voters to friends and also likes to talk about the ugliness of person I am with other people and also to those who like to lie, do not respect others, arrogant. And lastly, the hope I want to be successful and be proud of both of my parents and everyone around me. A few descriptions me thanks


Waalaikumsallam. Wr. Wb

Name : Della Nuriasha
Npm    : 22213149
Class   : 3EB15

Minggu, 28 Juni 2015

TUGAS 4

1.BUMN (BADAN USAHA MILIK NEGARA) merupakan salah satu jenis dari badan usaha, jenis-jenis badan usaha merupakan pilar dalam ekonomi kerakyatan. Jenis-jenis badan usaha yang merupakan pilar dalam ekonomi kerakyatan adalah BUMN, BUMS, dan Koperasi. Pasti teman-teman sudah tahu dengan hal tersebut. Sehingga tak perlu panjang lebar lagi membahas ulang segala sesuatu menyangkut pembahasan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) seperti yang telah diterangkan, yaitu pengertian BUMN, fungsi dan peranan BUMN dan bentuk-bentuk BUMN, maka dari itu, mari kita menuju pembahasan mengenai topik diatas yaitu kebaikan dan kelemahan BUMN. Kekuatan dan Kelemahan BUMN (Badan Usaha Milik Negara) adalah sebagai berikut :
  Ø  Kebaikan/Kelebihan BUMN (Badan Usaha Milik Negara)
    1.     Berusaha pada sektor-sektor yang menguasai hajat hidup orang banyak 
    2.    Memantau keberadaan usaha lainnya supaya dapat berusaha lebih baik
    3.    Menyediakan barang dan jasa publik untuk kesejahteraan masyarakat. 
    4.    Memiliki kekuatan hukum yang kuat
    5.    Salah satu sumber pendapatan negara 
    6.    Organisasi disusun dengan mantap
    Ø  Kelemahan/Kekurangan BUMN (Badan Usaha Milik Negara) 
    1. Karena sebagian BUMN bertujuan memberi layanan pada masyarakat, seolah-olah      BUMN tidak perlu efisien dalam pengelolaannya
    2.Lambat dalam mengambil keputusan karena pemilik (pemegang saham) atau pemodal adalah pemerintah sehingga untuk memutuskan sesuatu harus melalui birokrasi yang berbelit-belit
    3.  Maju mundurnya BUMN bergantung dari niat baik para penentu kebijakan pada BUMN


2. Struktur revenue atau pendapatan BUMN
     1.BUMN sebagai development agent boleh boros atas nama pembangunan, sehingga manajemen memanfaatkan posisinya untuk keuntungan pribadi.
     2.BUMN memiliki strategic position atau natural monopoli,  sehingga revenue bersumber dari captive market yang jarang dimiliki oleh perusahaan lainnya.

3. Perusahaan milik BUMN
   1)   Akomodasi dan penyediaan makanan dan minuman :
  ü  PT Hotel Indonesia Natour (Persero)
   2)   Industri pengolahan :
  ü  PT Balai Pustaka (Persero)
  ü  PT Barata Indonesia (Persero)
  ü  PT Batan Teknologi (Persero)
  ü  PT Boma Bisma Indra (Persero)
  ü  PT Bio Farma (Persero)
  ü  PT Dahana (Persero)
  ü  PT Dok dan Perkapalan Surabaya (Persero)
  ü  PT Garam (Persero)
  ü  PT Industri Gelas (Persero)
  ü  PT Industri Kapal Indonesia (Persero)
   3)   Informasi dan telekomunikasi :
  ü  Perum Lembaga Kantor Berita Nasional Antara
  ü  Perum Produksi Film Negara
  ü  PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk
   4)   Jasa keuangan dan asuransi :
  ü  PT Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Persero)
  ü  PT Asuransi Ekspor Indonesia (Persero)
  ü  PT Asuransi Kredit Indonesia (Persero)
  ü  PT Bahana PUI (Persero)
  ü  PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk
  ü  PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk
   5)   Jasa profesional, ilmiah dan teknis :
  ü  PT Bina Karya (Persero)
  ü  PT Biro Klasifikasi Indonesia (Persero)
  ü  PT Energy Management Indonesia (Persero)
  ü  PT Indah Karya (Persero)
  ü  PT Indra Karya (Persero)
  ü  PT Sucofindo (Persero)
   6)   Konstruksi :
  ü  PT Adhi Karya (Persero) Tbk
  ü  PT Amarta Karya (Persero)
  ü  PT Brantas Abipraya (Persero)
   7)   Pengadaan air, pengelolaan sampah, dan daur ulang :
  ü  Perum Jasa Tirta I
  ü  Perum Jasa Tirta II
   8)   Pengadaan gas, uap dan udara dingin:
  ü  PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk
  ü  PT Perusahaan Listrik Negara (Persero)
    9)   Perdagangan besar dan eceran :
  ü  PT PP Berdikari (Persero)
  ü  Perum Bulog
  10) Pertambangan dan penggalian :
  ü  PT Aneka Tambang (Persero) Tbk
  ü  PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk

Sumber:

Nama : DELLA NURIASHA
Npm  : 22213149
Kelas : 2EB15

Rabu, 20 Mei 2015

TUGAS 3

1. Sampai mana sebuah brand memiliki hak intelektual
Pada sebuah perusahaan yang menerbitkan sebuah brand haruslah memiliki hak intelektual oleh karena itu terlebih dahulu perusahaan harus mendaftarkan brandnya terlebih dahulu agar mendapatkan hak paten bagi merk tersebut yang terlebih dahulu perusahaan harus mendaftarkan brandnya tersebut .
Beberapa hak kekayaan intelektual tersebut memang wajib didaftarkan apalagi jika Anda ingin lebih aman dalam berbisnis. Anda tidak cepat bertindak, merek dagang, hak cipta ataupun desain industri dan hak kekayaan intelektual Anda lainnya bisa diambil alih oleh orang lain. Salah satu yang sering dilakukan oleh pebisnis untuk melindungi bisnis mereka adalah dengan mendaftarkan mereknya. Merek dagang sangat penting dalam berbisnis, apapun produk atau jasa yang dipasarkan.

2. UUD yang melindungi hak cipta
Hak cipta penulis adalah bagian dari hukum Hak Cipta.  Berupa Perlindungan Karya Sastra dan Seni. Penulis memiliki arti yang sangat luas, bisa termasuk dalam komposer, seniman, dan bahkan arsitek.
Pasal 3 UU no 15 Tahun 2001 tentang Merek, yaitu tanda yang berupa gambar, nama, kata, huruf- huruf, angka-angka, susunan warna, atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang atau jasa.
Dari rumusan tersebut, dapat diketahui bahwa merek:
   a)    Tanda berupa gambar, nama, kata, huruf-huruf,angka-angka, susunan warna, atau kombinasi dari nama, kata, huruf-huruf, angka- angka, susunan warna tersebut;
   b)   Memiliki daya pembeda (distinctive) dengan merek lain yang sejenis;
   c)    Digunakan dalam kegiatan perdagangan barang atau jasa yang sejenis.

  Ø  Pengertian Hak Atas Merek Dan Pemilik Merek
Hak cipta harus dapat melindungi ekspresi dari suatu ide gagasan konsep, salah satu cara untuk melindungi suatu hak cipta tercantum pada Pasal 3 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek, yaitu dengan melakukan pendaftaran hak atas merek.
Pasal 3 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek menyatakan bahwa hak atas merek adalah hak eksklusif yang diberikan oleh Negara kepada pemilik merek yang terdaftar dalam Daftar Umum Merek untuk jangka waktu tertentu dengan menggunakan sendiri merek tersebut atau memberikan izin kepada pihak lain untuk menggunakannya. Dalam pendaftaran merek, pemiliknya mendapat hak atas merek yang dilindungi oleh hukum. Pemilik Merek merupakan pemohon yang telah disetujui permohonannya dalam melakukan pendaftaran merek secara tertulis kepada Direktorat Jendral Hak Kekayaan Intelektual, sebagaimana yang temuat dalam Pasal 1 ayat (6) Undang-Undang Nomor 15
Tahun 2001 tentang Merek. 15 Tahun 2001 tentang Merek, yaitu tanda yang berupa gambar, nama, kata, huruf- huruf, angka-angka, susunan warna, atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang atau jasa.
Dari rumusan tersebut, dapat diketahui bahwa merek:
   1)    Tanda berupa gambar,nama,kata,  huruf-huruf,  angka-angka, susunan warna, atau      kombinasi dari nama, kata, huruf-huruf, angka- angka, susunan warna tersebut
   2)   Memiliki daya pembeda (distinctive) dengan merek lain yang sejenis;
   3)   Digunakan dalam kegiatan perdagangan barang atau jasa yang sejenis.
Berdasarkan fungsi dan manfaat inilah maka diperlukan perlindungan hukum terhadap produk Hak Merek, ada 3 (tiga) hal yaitu:
   1)    Untuk menjamin adanya kepastian hukum bagi para penemu merek, pemilik merek, atau pemegang hak merek;
   2)   Untuk mencegah terjadinya pelanggaran dan kejahatan atas Hak atas Merek sehingga keadilan hukum dapat diberikan kepada pihak yang berhak;
   3)   Untuk memberi manfaat kepada masyarakat agar masyarakat lebih terdorong untuk membuat dan mengurus pendaftaran merek usaha mereka.

3. Akibat jika melanggar Hak cipta
Berdasarkan ketentuan undang- undang ini, maka pihak yang melanggar dapat digugat secara keperdataan ke pengadilan niaga. Hal ini sebagaimana dibunyikan pada ketentuan Pasal 56 ayat (1), (2), dan (3) sebagai berikut:
  Ø  Pemegang Hak Cipta berhak mengajukan gugatan ganti rugi kepada Pengadilan Niaga atas pelanggaran Hak Ciptaannya dan meminta penyitaan terhadap benda yang diumumkan atau hasil Perbanyakan Ciptaan itu.
  Ø  Pemegang Hak Cipta juga berhak memohon kepada Pengadilan Niaga agar memerintahkan penyerahan seluruh atau sebagian penghasilan yang diperoleh dari penyelenggaraan ceramah, pertemuan ilmiah, pertunjukan atau pameran karya, yang merupakan hasil pelanggaran Hak Cipta.
  Ø  Sebelum menjatuhkan putusan akhir dan untuk mencegah kerugian yang lebih besar pada pihak yang haknya dilanggar, hakim dapat memerintahkan pelanggar untuk menghentikan kegiatan Pengumuman dan/atau Perbanyakan Ciptaan atau barang yang merupakan hasil pelanggaran Hak Cipta.
Sementara itu dari sisi pidana pihak yang melakukan pelanggaran hak cipta dapat dikenai sanksi pidana berupa pidana penjara dan/atau pidana denda. Maksimal pidana penjara selama 7 tahun dan minimal 2 tahun, sedangkan pidana dendanya maksimal Rp. 5 miliar rupiah dan minimal Rp. 150 juta rupiah


Nama : DELLA NURIASHA
Npm  : 22213149
Kelas  : 2EB15

Minggu, 19 April 2015

Tugas 2

HUKUM PERJANJIAN

  1)      Hukum perjanjian konsensualisme
Asas konsensualisme dapat disimpulkan melalui Pasal 1320 ayat 1. Bahwa salah satu syarat sahnya perjanjian adalah adanya kesepakatan kedua belah pihak. Dengan adanya kesepakatan oleh para pihak, jelas melahirkan hak dan kewajiban bagi mereka atau biasa juga disebut bahwa kontrak tersebut telah bersifat obligatoir yakni melahirkan kewajiban bagi para pihak untuk memenuhi kontrak tersebut.
Bahwa apa yang dikehendaki oleh yang satu itu adalah juga yang dikehendaki oleh yang lain atau bahwa kehendak mereka adalah “sama”, sebenarnya tidak tepat. Yang betul adalah bahwa yang mereka kehendaki adalah “sama dalam kebalikannya”, misalnya : yang satu ingin melepaskan hak miliknya atas suatu barang  asal diberi sejumlah uang tertentu sebagai gantinya, sedangkan yanglain ingin memperoleh hak milik atas barang tersebut dan bersedia memberikan sejumlah uang yang dosebutkan itu sebagai gantinya kepada pemilik barang. pasal 1338 (1) yang berbunyi : “Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya” itu dimaksudkan untuk menyatakan tentang kekuatan perjanjian, yaitu kekuatan yang sama dengan suatu undang-undang.
kesimpulannya ialah dengan jalan menekankan pada perkataan “ semuanya” yang ada dimuka perkataan “perjanjian”. Dikatakan bahwa pasal 1338 (1) itu seolah-oleh membuat suatu pernyataan (proklamasi) bahwa kita diperbolehkan membuat perjanjian apa saja dan itu akan mengikat kita sebagaimana mengikatnya undang-undang. Pembatasan terhadap kebebasan itu hanya berupa apa yang dinamakan “ ketertiban dan kesusilaan umum”.
Kesepakatan berarti kesesuaian kehendak. Namun kehendak atau keinginan ini harus dinyatakan. Kehendak atau keinginan yang disimpan didalam hati tidak mungkin deketahui pihak lain dan karenanya tidak mugkin melahirkan sepakat yang diperlukan untuk melahirkan suatu perjanjian.



   2)    Hukum perjanjian berkontra
Asas kebebasan berkontrak adalah suatu asas yang memberikan kebebasan kepada pihak untuk membuat atau tidak membuat perjanjian, mengadakan perjanjian dengan siapapun, menentukan isi perjanjian/ pelaksanaan dan persyaratannya, menentukan bentuknya perjanjian yaitu tertulis atau lisan.
Asas kebebasan berkontrak merupakan sifat yang hanya mengatur para pihak sehingga para pihak dapat saja mengenyampingkannya, kecuali terhadap pasal-pasal tertentu yang sifatnya memaksa.
Kebebasan berkontrak atau freedom of contract harus dibatasi bekerjanya agar kontrak yang dibuat berlandaskan asas itu tidak sampai merupakan perjanjian yang berat sebelah atau timpang. Apakah memang asas kebebasan berkontrak dapat bekerja secara bebas mutlak atau tidak. Bila kita mempelajari pasal-pasal KUH Perdata, ternyata asas kebebasan berkontrak itu bukannya bebas mutlak. Dengan kata, lain asas kebebasan berkontrak dibatasi oleh asas konsensualisme. Dari Pasal 1320 ayat (2) dapat pula disimpulkan bahwa kebebasan orang untuk membuat kontrak dibatasi oleh kecakapannya untuk membuat kontrak.
Sekalipun asas kebebasan berkontrak yang diakui oleh KUH Perdata pada hakikatnya banyak dibatasi oleh KUH Perdata itu sendiri, tetapi daya kerjanya masih sangat longgar. Kelonggaran ini telah menimbulkan ketimpangan-ketimpangan dan ketidakadilan bila para. pihak yang mem­buat kontrak tidak sama kuat kedudukannya atau mempunyai bargaining position yang tidak sama

3) Hukum perjanjian sunt servanda
Pacta Sunt Servanda merupakan asas atau prinsip dasar dalam sistem Hukum Sipil, yang dalam perkembangannya diadopsi ke dalam hukum internasional. Pacta Sunt Servanda berasal dari bahasa latin yang berarti bahwa "janji harus ditepati". Pacta Sunt Servanda menyatakan bahwa setiap perjanjian menjadi hukum yang mengikat bagi para pihak yang melakukan perjanjian. Asas ini menjadi dasar Hukum Internasional karena termaktub dalam Konvensi Wina tanggal 23 Mei 1969 pasal 26 yang menyatakan bahwa setiap perjanjian mengikat para pihak dan harus dilaksanakan dengan itikad baik.
Pacta Sunt Servanda pertama kali diperkenalkan oleh Grotius yang kemudian mencari dasar pada sebuah hukum perikatan dengan mengambil prinsip-prinsip hukum alam atau hukum kodrat. Bahwa seseorang yang mengikatkan diri pada sebuah janji mutlak untuk memenuhi janji tersebut (promissorum implendorum obligati).
Pacta sunt Servanda pertama kali diperkenalkan oleh Grotius yang kemudian mencari dasar pada sebuah hukum perikatan dengan mengambil pronsip-prinsip hukum alam, khususnya kodrat. Bahwa seseorang yang mengikatkan diri pada sebuah janji mutlak untuk memenuhi janji tersebut (promissorum implendorum obligati).

Menurut Grotius, asas pacta sunt servanda ini timbul dari premis bahwa kontrak secara alamiah dan sudah menjadi sifatnya mengikat berdasarkan dua alasan yaitu :
  ü  Sifat kesederhanaan bahwa seseorang harus berkejasama dan berinteraksi dengan orang lain, yang berarti orang ini harus saling mempercayai yang pada gilirannya memberikan kejujuran dan kesetiaan   
     ü  Bahwa setiap individu memiliki hak, dimana yang paling mendasar adalah hak milik yang bisa dialihkan. Apabila seseorang individu memilik hak untuk melepaskan hak miliknya, maka tidak ada alasan untuk mencegah dia melepaskan haknya yang kurang penting khususnya melalui kontrak.
Kemudian Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional pasal 4 ayat (1) menyatakan bahwa Pemerintah Republik Indonesia membuat perjanjian internasional dengan satu negara atau lebih, organisasi internasional, atau subjek hukum internasional lain berdasarkan kesepakatan; dan para pihak berkewajiban untuk melaksanakan perjanjian tersebut dengan iktikad baik. Asas Pacta Sunt Servanda juga memiliki dasar religi dalam Hukum Islam yakni dalam Al-Qur'an yang pada intinya menyeru pada manusia untuk menepati janji terhadap Tuhannya dan terhadap sesamanya.


SUMBER :
http://www.negarahukum.com/hukum/asas-asas-perjanjian.html
http://notarisnurulmuslimahkurniati.blogspot.com/2009/04/asas-kebebasan-berkontrak.html
https://hukumperdataalfa.wordpress.com/2009/12/09/apa-yang-dinamakan-%E2%80%9Ckonsensualisme%E2%80%9D-itu/
http://asashukum.blogspot.com/2012/03/pacta-sunt-servanda.html
http://sevenmomentum.blogspot.com/2015/01/Janji.Harus.Ditepati.html
Subekti, 1995,Aneka Perjanjian, Citra Aditya Bakti, Bandung.

NAMA   : DELLA NURIASHA
KELAS  : 2EB15
NPM      : 22213149

Sabtu, 28 Maret 2015

Tugas 1

Menurut hukum indonesia  boleh apa tidak Freeport sebagai alasan pendapatan Negara, dan berikan alasan apakah anda setuju atau tidak?

     Menurut hukum yang ada di Indonesia Freeport boleh saja ada di Indonesia karena dapat menambah pendapatan Negara republik Indonesia itu sendiri. tetapi bagi saya keberadaan Freeport sangatlah tindakan yang tdak benar coba saja kita lihat pemerintah mendukung sekali keberadaan Freeport tetapi kenyataannya penduduk papua sangatlah tidak suka karna bagi mereka Freeport hanya menguras sumber daya alam/ kekanyaan alam papua saja, jikapun Indonesia dapat menerima keuntungan besar pada adanya Freeport tetapi tidak membawa keuntungan terhadap warga papua karena coba saja kita tengok warga papua banyak yang masih dibawah garis kemiskinan.
        
   Jika saja pemerintah mau menghentikan kerjasama Indonesia dengan Freeport sangatlah baik karena pemerintah bisa saja memanfaatkan tenaga warga papua dalam mengelola sumber daya alamnya sendiri dengan baik tanpa campur tangan orang luar negeri yang ingin menguasai kekayaan sumber daya alam di papua



Nama       : Della nuriasha
Npm         : 22213149
Kelas        : 2EB15